Sumber: fortunenow.com

Anda pelaku MLM (Multi Level Marketing)? Atau Anda pernah trauma menjadi anggota suatu sistem pemasaran berjenjang? Kalau Anda pelaku MLM, cermatilah apakah sistem yang digunakan dalam penjualan langsung beserta produknya mengandung unsur haram atau subhat. Kalau Anda pernah trauma berarti sama dengan saya.

Ya, saya pernah menjadi anggota sistem pemasaran berjenjang sewaktu kuliah, tepatnya ada tiga sistem MLM yang saya ikuti. Tiga-tiganya gagal saya jalani. Mengapa, apakah ini karena salah saya? Tidak sepenuhnya. Terlebih dahulu, saya mengapresiasi kepada setiap orang yang telah berhasil atau sukses mengikuti sistem penjualan langsung. Bagi yang berhasil berarti telah menjalani hukum besi kesuksesan, yaitu tidak ada proses instant untuk meraih kesuksesan.

Tapi sayang, hukum besi kesuksesan tersebut seringkali dikemas (biasanya oleh upline suatu MLM) dengan jebakan-jebakan manis yang menjurus pada unsur keharaman. Jebakan manis inilah yang membuat saya tergiur bergabung ke dalam sistem pemasaran berjenjang, mungkin juga pernah dirasakan oleh Anda. Apa saja jebakan-jebakan manis tersebut dan di mana saja letak unsur-unsur keharamannya?

 

Pertama, pola perekrutan. Saya waktu itu sebagai calon downline tergiur dengan rayuan upline yang kira-kira berkata begini: “….Jangan khawatir, Anda hanya sekali membeli produk kami dan itu terjadi ketika Anda pertama kali menjadi member. Selanjutnya bila ingin mendapat komisi atau bonus, Anda cukup mencari orang untuk menjadi anggota di bawah Anda….”. perhatikan perkataan (akad) ini. Benar, akad itu dikemas dengan cara yang salah sehingga mengandung unsur keharaman. Unsur keharamannya terletak pada (1). Komisi atau bonus yang nantinya didapat oleh saya. Saya akan mendapat “uang haram” bila saya berhasil menjaring anggota baru (Bukan berhasil karena saya menjual produk, beda bukan?). Nah, bila akad “palsu” ini saya setujui, maka saya akan menjadi anggota MLM berlabel money game (permainan uang). Hayoo, apa hukumnya money game? Benar, jelas hukumnya haram (dasar hukumnya nanti dapat dilihat di akhir tulisan ini).

(2). Adanya unsur penipuan (gharar) dan pemaksaan (mukhtar). Pada waktu direkrut menjadi anggota penjualan langsung, saya sangat awam dengan pengetahuan MLM. Intinya, tidak ada proses dialog ketika upline melakukan presentasi ke saya sampai terjadinya “persetujuan” (tahukah Anda, saya pada waktu itu hanya manggut-manggut, pura-pura mengerti). Nah, ketika menjadi member MLM upline tersebut, saya tertipu. Misalnya, masalah customer care (yaitu, saya akan dibantu ketika mempresentasikan product and system knowledge MLM), ternyata tidak. Upline saya sibuk dengan kegiatan mencari anggota-anggota baru demi ambisi meraih bonus yang ada pada tiap jenjang sistem penjualan langsung. Masih banyak contoh lainnya terkait dengan unsur penipuan (gharar) yang dialami oleh saya.

Bagaimana dengan pemaksaan (mukhtar)? Begini ceritanya: Pada waktu itu, teman kuliah saya terlebih dahulu masuk MLM, tepatnya ada lima orang. Semenjak menjadi member, sepertinya mereka bukan lagi teman akrab. Itu yang kurasakan, begitu pula dengan beberapa teman kampus lainnya. Setiap ketemu, hampir selalu membahas apa dan bagaimana keunggulan MLM mereka, tak ada lagi obrolan informal. Awalnya saya tak terpengaruh dengan gaya “cuci otak” mereka. Akan tetapi lama-kelamaan saya bersimpati. Apa sebab? Ya karena mereka sangat agresif membujuk saya, sampai-sampai mereka rela berkunjung dan menginap di kost saya. Perhatikan, saya bersimpati dan bersedia terpengaruh karena sebenarnya “kasihan” serta ingin membalas budi baik mereka yang mau bersilahtuhrahmi. Ini unsur pemaksaanya yang pertama, terpengaruh bukan karena keunggulan MLM mereka tetapi karena dua alasan yang telah saya sebutkan tadi. Dengan kalimat lain, saya terpaksa masuk MLM mereka karena dua alasan itu.

Unsur pemaksaan yang kedua terletak pada product yang mereka tawarkan. Memang banyak pilihan barang, akan tetapi saya sebagai pemula harus memilih beberapa product yang sesuai dengan harga uang pendaftaran. Benar, uang pendaftaran juga berfungsi sebagai uang pembelian beberapa produk serta stater kit (buku panduan) MLM. Akibatnya apa, saya terpaksa membeli berbagai barang yang sebenarnya tidak diperlukan atau tidak bermanfaat untuk saya. Pada waktu itu, saya membeli kopi kemasan, shampo, sabun cuci dan satu dus mie instan. Jangan tanya semua barang itu berguna bagi saya. Awalnya memang mencoba “apa benar kualitas semua barang itu sesuai dengan info kehebatan yang ada di stater kit MLM?”. Ternyata kenyataannya, tidak. Ingin saya jual kembali, sia-sia, mana ada yang membeli produk kebutuhan rumah tangga yang jauh lebih mahal dari apa yang ditawarkan di warung-warung kelontong.

Kedua, pola kerja. Ketika sudah menjadi member MLM, saya bangga karena mendapatkan kartu keanggotaan. Tapi sayang, kartu itu seperti kartu pengesahan untuk membolehkan saya berjudi (maysir). Saya waktu itu tidak menyadari unsur keharaman ini. Saya hanya menyadari, saya harus berusaha dengan cara apapun (baik membeli produk maupun merekrut orang baru) untuk naik jenjang ke level berikutnya dalam skema piramida MLM. Artinya apa? Motivasi saya murni berjudi untuk mendapatkan komisi atau bonus agar cepat kaya dalam waktu sesingkat mungkin (Cat: Setiap naik jenjang piramida, bonus atau komisi akan diberikan lebih besar daripada bonus atau komisi level sebelumnya).

Unsur judi inilah yang membuat saya kecewa. Bagaimana tidak, saya telah bersusah payah untuk memenuhi target per bulan yang telah ditentukan sistem MLM. Tidak tahunya saya tidak memenuhi target yang membuat hangus komisi sisa saya dari hasil penjualan produk (nama istilahnya “tutup poin”). Dengan kalimat lain, sistem tutup poin memaksa saya untuk berspekulasi serta telah men-zhalimi saya secara tidak langsung.

Itulah jebakan-jebakan manis yang saya rasakan ketika bersentuhan langsung dengan suatu sistem pemasaran berjenjang. Bila dirinci, berikut unsur-unsur keharaman jebakan-jebakan manis MLM : unsur money game, penipuan (gharar), pemaksaan (mukhtar), berjudi (maysir), spekulasi dan zhalim.

Untunglah MUI saat ini (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan fatwa haram bagi MLM yang masih mengemas dengan jebakan-jebakan manis. Bacalah fatwa tersebut agar Anda tidak terjebak. Anda dapat mengunduhnya di sini (dalam fatwa ini, Anda nantinya akan temukan berbagai dasar hukum unsur-unsur keharaman MLM).

*Note: Tulisan ini adalah repost tulisan saya sendiri di Kompasiana