Sumber:

Sumber: waleantinarkoba.com

Lima boks kaca terhampar di atas satu meja. Masing-masing kotak kaca berisi seperangkat alat pendukung yang digunakan pemakai Narkoba. Ada dua boks kaca berisi alat timbangan opium yang terdiri dari alat penakar dan alat pengukurnya. Lalu masing-masing kotak kaca lainnya berisi alat penghisap opium, alat pemasak opium berbentuk alat penghisap rokok Arab Shisha, dan alat penghisap opium berbentuk cangklong rokok.

Sementara di ruang pamer yang sama, di tembok kanan-kiri berjajar kotak-kotak kayu beratapkan kaca tembus pandang. Bila memandang kaca tembus pandang itu, pengunjung akan melihat berbagai koleksi yang sangat erat berkaitan dengan Narkoba. Berbagai koleksi itu beralaskan kertas informasi yang memberitahu koleksi apa dan kegunaannya. Misal koleksi replika daun ganja (Cannabis) dan seperangkat alat peraciknya.

Masih banyak lagi koleksi NAPZA lainnya di dalam ruang pamer Pengenalan tentang jenis-jenis narkoba, sejarah narkoba, alat-alat yang digunakan dan sangsi hukumnya.di Wale Anti Narkoba (WAN). Masih ada delapan ruang pamer lainnya di antaranya: (1). Ruang Dampak serius akibat mengkonsumsi narkoba : narkoba dapat menyasar siapa saja, tanpa peduli profesi, latar belakang pendidikan, dan status sosial; (2). Ruang Narkoba dari sudut pandang agama dan kepercayaan; (3). Ruang Institusi BNN selaku focal point penanganan masalah narkoba; (4). Ruang Bidang Pemberantasan : Lika – liku pemberantasan narkoba; (5). Ruang Bidang Rehabilitasi : Proses rehabilitasi; (6). Ruang Bidang Hukum dan Kerjasama : data MoU BNN dengan institusi di dalam dan luar negeri: (7). Ruang Masa depan cerah tanpa narkoba; serta (8). Ruang Pemutaran film.

Sumber:
Sumber: waleantinarkoba.com

WAN adalah museum bertemakan informasi Narkoba pertama kali di Indonesia. Lebih tepatnya, WAN adalah media pendidikan bagaimana mencegah serta memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba. Lokasi museum WAN bertempat di dalam Kompleks Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara, Jl. Pinabetengan, Tompaso-Minahasa. Kata Wale sendiri berarti rumah dalam bahasa Tomohon, Sulawesi Utara.

Mengapa museum pertama anti Narkoba bertempat di Sulawesi Utara bukan di Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia?  Menurut DR Benny Josua Mamoto, gerbang pintu masuk peredaran Narkoba di Indonesia Timur adalah Sulut. Detailnya, Sulut merupakan target potensial pemasaran penyalahgunaan Narkoba. Oleh karena itu sangat tepat Sulut menjadi tempat dibangunnya WAN pertama kali di Indonesia sesuai dengan kampanye BNN “Tahun 2014 sebagai Tahun Penyelamatan Pengguna Narkoba.”

Benny Mamoto sendiri adalah orang yang pertama kali mempunyai gagasan perlunya dibangun museum anti Narkoba. Selaku Ketua Umum Yayasan Institut Seni Budaya Sulut, lalu Beliau mengajak Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Solidaritas Isteri Kabinet (SIKIB) untuk mendirikan Wale Anti Narkoba. “Tujuan didirikannya WAN ini untuk menanggapi pertanyaan warga negara tentang ancaman penyalahgunaan Narkoba serta cara penanggulangannya.” Tambahnya.

Dan ketiga lembaga itu pula yang meresmikan WAN pada tanggal Rabu, 26 Februari 2014. Sebelum tanggal itu, soft lauching WAN sudah dilakukan November 2013 dan dibuka oleh Komjen Pol Drs. Anang Iskandar. Menariknya ketika dibuka secara umum pada tanggal 7 Juli 2013, WAN tidak sepi pengunjung, museum ini pernah dikunjungi 4128 orang sampai November 2013.

“Masyarakat sangat antusias ketika datang ke Wale Anti Narkoba, karena banyak hal baru yang mereka temukan tentang akibat penyalahgunaan barang tersebut,” tutur Stevi Sondakh, yang sejak 7 Juli lalu menjadi tour guide WAN kepada okemanado.com. Masyarakat yang datang mengunjungi WAN tercatat dari berbagai golongan. Ada dari siswa-siswi sekolah, pemuda Gereja, wisatawan lokal, bahkan ada turis luar negeri.

Mencegah dan menyelamatkan pengguna narkoba

Ke depannya, WAN akan didirikan di seluruh kota-kota besar Indonesia. Dengan kalimat lain, WAN akan menjadi pilot project bagaimana membangun Rumah Edukasi Pencegahan dan Respons Dini Narkoba (RE-PRDN). Bedanya nanti RE-PRDN di setiap kota besar Indonesia akan berbasis kearifan budaya lokal. Begitu pula dengan WAN di Minahasa, museuum ini juga berbasis budaya lokal yaitu Pa’dior Triangel.

Pa’dior Triangel adalah segitiga kearifan lokal Minahasa yang tiga simpul penghubungnya masing-masing bernama “ELUREN ENG KAYOBA’AN” (jaga dan pelihara bumi), “MAPALUS” (bekerja bersama-sama dan saling menolong), serta “SITOU TOMOU TUMOU TOU” (menjadi manusia untuk memanusiakan manusia). Tiga simpul segitiga budaya lokal itu, juga mencerminkan nilai-nilai dimensi ekologi, ekonomi dan sumber daya manusia yang ketiga nilai tersebut sesuai dengan semangat mencegah dan menyelamatkan pengguna narkoba.

Oleh karena itu masih dalam semangat mencegah dan menyelamatkan pengguna narkoba dan kampanye BBN yaitu Indonesia Bergegas, RE-PRDN ke-2 akan didirikan di ibu kota Indonesia. “Akan dibangun di Jakarta, tapi dengan nama yang berbeda. Karena kata Wale merupakan nama yang melekat dengan budaya Minahasa,” kata Benny Mamoto kepada TribunNews.

Kelak ketika RE-PRDN sudah ada di setiap sudut kota di Indonesia, sosialisasi upaya pencegahan dan peredaran Narkoba akan berjalan lebih efektif. Alasannya, sosialisasi bukan lagi berjalan satu arah yaitu BNN mendatangi masyarakat tetapi dua arah ketika masyarakat secara sadar mau mengunjungi museum anti Narkoba.

Di Sulawesi Utara Sendiri, sosialisasi dua arah dimulai dari Penandatanganan Nota Kesepahaman antara BNN dengan 15 Perguruan Tinggi yang ada di Sulawesi Utara pada hari Senin (25 November 2013), di Pusat Kebudayaan Sulawesi Utara, Pa’Dior, Minahasa. Dalam MOU itu, ada kesepakatan di antaranya BNNP/K akan membantu mengatur dan mengoordinasikan sosialisasi ketika para mahasiswa lokal berkunjung Wale Anti Narkoba.

Kesepakatan lainnya dalam MOU yang ditandatangani oleh Kepala BNN, Komjem Pol Anang Iskandar itu juga berisi menyelenggarakan tes urine di lingkungan kampus dan berupaya menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari penyalahgunaan Narkoba. Dalam hal menciptakan lingkungan kampus yang bebas dari penyalahgunaan Narkoba, BNNP/K juga akan memberikan pelayanan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial kepada para penyalahguna Narkoba di lingkungan pendidikan. “Caranya dengan memberikan pembekalan tentang konseling adiksi, terapi psikososial, dan permasalahan yang terkait dengan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba serta pembentukan CBU berbasis pendidikan,” ujar Anang Iskandar kepada TribunNews.

Iklan