Menyelamatkan Pengguna Narkoba

Sumber: napzaindonesia.com
Sumber: napzaindonesia.com

Ada yang bilang, hidup itu bisa bahagia bila menjalaninya sedang-sedang saja. Sedang-sedang saja dalam arti tidak berlebihan ataupun tidak berkekurangan. Semuanya serba cukup dalam memenuhi kebutuhan bukan keinginan. Begitu pula dengan apa yang namanya Narkoba (Narkotika dan Obat-Obatan Berbahaya), obat-obatan itu ada dan penting karena kebutuhan memerlukannya. Kalau hanya sekedar keinginan mengkonsumsi Narkoba itu namanya berlebihan atau lebih tepatnya penyalahgunaan.

Pertanyaannya kemudian adalah: Bisakah Narkoba menjadi kebutuhan (sehari-hari) agar hidup bahagia? Pertanyaan ini penting diajukan karena memang sudah banyak kasus penyalahgunaan Narkoba. Jelas pertanyaan ini sebagian besar sudah tahu jawabannya. Misal jawabannya, jika Narkoba membuat hidup itu bahagia mengapa efeknya merusak. Contoh merusak, bangkrut karena barang-barang pribadi dijual demi membeli Narkoba, belum lagi efek merusak pada tubuh pemakai Narkoba.

Lebih jauh, Narkoba berarti tidak bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari agar hidup bahagia, semua orang tahu itu. Nah kalau tetap memaksa Narkoba menjadi kebutuhan, itu namanya keinginan yang berlebihan yang malah membuat hidup tidak bahagia. Pertanyaan menggelitiknya adalah, mengapa ada beberapa orang yang tetap memaksakan Narkoba menjadi keinginan? Menggelitik karena ada yang sudah tahu Narkoba itu hanya digunakan untuk keperluan medis, namun terus menyalahgunakannya.

Jawaban pertama, sebut saja dengan nama pemula. Ya karena seseorang itu pemula maka paparan informasi Narkoba di lingkungan sekitarnya, membuat ia ingin tahu lalu coba-coba. Ingin tahu lalu coba-coba itu pun sebenarnya bisa ditiadakan jika lingkungan sekitar pemula, sehat. Sehat dalam arti paparan informasi Narkoba beserta peredarannya tidak ada di lingkungan pemula.

Jawaban kedua, sebut saja dengan nama pemakai. Pemakai berarti seseorang itu sudah dan sedang merasakan efek kecanduan Narkoba dan efek merusaknya. Namun herannya walau sudah merasakan dampak keduanya, pemakai tetap saja menyalahgunakan Narkoba. Lebih jauh selain lingkungan pemakai sudah tida sehat lagi, ia tetap menggunakannya karena kondisi psiko-sosial jiwanya ingin merasakan kebahagiaan sesaat. Tentu artinya ketika tidak sedang menggunakan Narkoba, ia tidak bahagia.

Jawaban ketiga, sebut saja dengan nama penggedar. Motif penggedar terbagi dua, ada yang pengedar biasa dan ada pula yang disebut bandar. Kalau pengedar biasa motifnya hanya untuk memenuhi keinginan mengkonsumsi Narkoba. Maksudnya keuntungan penjualan natkoba akan digunakan untuk keperluan dirinya sendiri menyalahgunakan Narkoba. Beda dengan bandar, motifnya sudah ekonomis. Dalam arti, bandar tahu bahwa peredaran Narkoba di pasar gelap sangatlah besar keuntungannya.

Dari mengetahui motif dari masing-masing jenis orang yang terpapar Narkoba, mana yang harus diselamatkan (direhabilitasi) dan yang mana yang setidaknya mendapat ganjaran penjara? Secara sederhana pertanyaan ini bisa dijawab dengan analogi, dari keempat orang yang terpapar Narkoba (pemula, pemakai, pengedar, bandar) mana tindakannya berpotensi merugikan orang banyak dan mengarah ke perbuatan jahat?

Nah dari ukuran perbuatan merugikan orang banyak dan ada kejahatan, bisa diidentifikasi ternyata hanya pemula dan pemakai (keduanya disebut pengguna) yang tidak termasuk dalam ukuran tersebut. Alasannya, semua rata-rata tahu mereka berdua hanya merugikan diri sendiri, maksimal merugikan keluarganya. Bentuk-bentuk kerugiannya bisa ketergantungan narkoba, overdosis, kematian serta menghabiskan harta pribadi dan keluarganya. Informasi dari BNN (Badan Narkotika Negara), dalam sehari ada 50 orang meninggal akibat Narkoba di Indonesia.

Sedangkan untuk pengedar dan bandar, dua orang inilah yang setidaknya layak mendapat ganjaran penjara. Alasannya, tindaka kedua orang ini sudah merugikan lingkungan sekitar dan mengganggu ketertiban umum. Merugikan lingkungan sekitar karena melibatkan orang lain untuk menjadi pemula dan pemakai narkoba. Efek lebih lanjutnya, tindakan pengedar dan bandar mengakibatkan ketergantungan, overdosis dan kematian orang lain yang menggunakan Narkoba.

Bagaimana dengan mengganggu ketertiban umum atau tindakan jahat yang disebabkan oleh perbuatan pengedar dan bandar? Jelas tindakan pengedar atau bandar meresahkan masyarakat sekitar, terutama bagi keluarga yang salah satu anggotanya menjadi pemula dan pemakai narkoba. Harta benda keluarga pemula atau pemakai, ludes akibat membeli narkoba, belum lagi mengganggu keharmonisan keluarga tersebut.

Itu tadi cara berpikir analogi bagaimana ketiga jenis orang yang terpapar Narkoba dikenai sanksi atau tidak, lalu bagaimana dengan landasan hukumnya? Maksudnya, apakah ada landasan dan penegakan hukum bagi pemula, pemakai, pengedar dan bandar Narkoba? Dalam Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika, penegakan hukum untuk menyelamatkan pemula (yang berpotensi kecanduan Narkoba) dan pemakai (yang telah ketergantungan Narkoba) adalah asesmen.

Asesmen adalah tindakan antisipasi meliputi mewawancarai, mengobservasi serta memeriksa kondisi fisik dan psikis pemula dan pemakai Narkoba. Tindakan antisipasi dilakukan oleh Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Nantinya, asesmen berguna untuk menentukan apakah pemula dan pemakai Narkoba layak direhabilitasi. Bagi yang belum layak direhabilitasi bukan berarti harus dipenjara, melainkan cukup mendapat pengawasan dari keluarga.

Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) sendiri terdiri dari pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit dan lembaga rehabilitasi sosial yang tersebar di seluruh kota-kota di Indonesia. Untuk mengetahui, di mana saja lokasi Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL), lihat di sini.

Sebagai informasi, tahun 2014 ini oleh BBN ditetapkan sebagai tahun penyelamatan pengguna narkoba di Indonesia. Oleh karena itu bagi masyarakat atau keluarga yang mengetahui ada pengguna di lingkungan sekitarnya wajib melapor ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Selain karena ada sanksi hukumnya dipenjara selama 6 bulan, alasan kenapa wajib melapor adalah untuk menyelamatkan pengguna Narkoba. Sebagai korban, pengguna yang melapor tentu tidak akan dipenjara, mereka akan diasesmen lalu direhabilitasi demi menolong atau menyelamatkannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s