Ilustrasi (Sumber: kotabalikpapan.net)
Ilustrasi (Sumber: kotabalikpapan.net)

Penyalahgunaan Narkoba spektrum pemakaiannya sudah melebar kemana-mana. Tidak lagi memandang dari kalangan atas atau bawah, semuanya dapat ditemukan pengguna penyalahgunaan Narkoba. Hampir segala jenis narkoba maupun obat psikotropika lainnya bukanlah barang yang asing lagi di kalangan masyarakat. Dari berbagai jenis dengan harga yang murah sampai jenis harga termahal sudah menjadi barang yang tidak lagi langka. Hingga tahun 2014 ini, sudah banyak kasus terjadi akibat penyalahgunaan narkoba. Baik kalangan remaja maupun remaja dewasa.

Remaja dikenal dengan karakter rasa ingin tahunya yang kuat sekali. Apapun yang menarik apalagi familiar di lingkungannya, mereka ingin sekali mencoba sebab rasa ingin tahunya itu. Misal seperti mengkonsumsi minuman beralkohol dan merokok, mereka begitu kuat ingin mencoba lalu pelan-pelan merasa nyaman. Begitu pula dengan para pemakai atau yang lebih sering disebut sebagai pecandu narkoba ini. Sekali mereka terjerat, maka akan kesulitan untuk bisa lepaskan diri dari barang mematikan satu ini.

Pecandu Narkoba di fase-fase awal sebagai pengguna, sangat dimungkinkan dibuat mabuk kepayang oleh berbagai obat mematikan ini. Tidak peduli laki-laki maupun para wanita pun telah banyak yang terjerat oleh barang satu ini. Perbandingan pemakai narkoba antara laki-laki dan perempuan bisa dibilang tidak terlalu jauh. Dari berbagai jenis seperti, ganja atau kanabis, sabu, putaw, heroin atau morfin, opiate atau lebih sering dikenal dengan nama opium, kokain dan sebagainya,  dan masih banyak lagi jenis dari barang mematikan satu ini, telah banyak yang pernah memakainya.

Pantas saja ada banyak korban yang menggunakannya karena begitu banyak puluhan variasi jenis obat mematikan ini beredar bebas. Dalam kasus yang satu ini, tercatat 80% pemakai narkoba rata-rata kaum laki-laki. Sementara untuk perempuan tercatat sekitar 20%. Ini cukup mencengangkan sebenarnya bila ditelusuri lebih lanjut, kasus pemakai narkoba lebih didominan laki-laki dengan berbagai kasus kronologi. Dan tidak sedikit para wanita menjadi pelaku sebagai pemakai maupun tidak jarang pula menjadi pengedar narkoba atau kurir.

Menjadi pemakai biasanya didominasi laki-laki daripada perempuan. Beda dengan perempuan yang biasanya dikorbankan menjadi kurir mengedarkan Narkoba. Dari pemberitaan tentang pemakai atau pecandu, dan mengamati tentang perilaku awal mula menjadi pemakai, hampir dari mereka mengaku tidak ingat ihwal perkenalannya dengan barang yang satu itu. Rata-rata pemakai terjerat narkoba dengan berbagai alasan permasalahan antara lain dengan beberapa faktor pemicu yaitu :

Ø  Faktor sosial, dimana pengguna mempunyai keinginan besar untuk melanggar, adanya sifat memberontak, tak ingin hal-hal yang bersifat otoritas, menolak nilai-nilai tradisional, mudah kecewa, tidak sabar serta adanya keinginan diterima di kelompok pergaulan sehingga masuk dalam jerat narkoba.

Ø  Faktor kecemasan dan depresi, dimana pengguna tidak mampu menyelesaikan kesulitan hidup, menghindari rasa cemas dan depresi, sehingga melarikan diri ke penyalahgunaan narkoba.

Ø  Faktor pengetahuan, sikap dan kepercayaan ini adalah pengaruh terbesar penyebab seseorang terseret ke narkoba. Suatu contoh jika seseorang yang tanpa memiliki pengetahuan tentang bahaya narkoba kemudian mengikuti orang lain yang menggunakan, atau ingin coba-coba agar diterima di lingkungan pergaulan menjadi si pengguna mudah masuk ke dalam jerat narkoba.

Ø  Faktor keluarga, dimana keluarga berperan penting dalam memperkenalkan sesuatu yang baik dan buruk. Bahkan peran penting keluarga menjadi kunci utama keberlangsungan hidup generasi berikutnya.

Ø  Faktor ketersediaan. Ini yang mungkin belum terpikirkan. Faktor ketersediaan adalah suatu faktor dimana narkoba mudah didapat seperti halnya minuman keras (miras), rokok dan sebagainya yang tersedia dimana-mana dan mudah diperoleh karena maraknya peredarannya. Seperti halnya narkoba, barang yang satu ini pun sangat mudah di dapat dari teman ke teman, bahkan dari si pengedar sendiri. Terlebih di Indonesia sendiri sebagai produsen narkoba. Karena anggapan besar jika bisnis Narkoba sangat menjanjikan keuntungan besar, kultivasi gelap ganja di beberapa daerah di Indonesia serta penegakan hukum yang belum tegas dan konsisten menjadi pemicu utama banyaknya kasus narkoba yang menyerang dan menjerat masyarakat muda.

Ada kasus langka namun nyata yaitu si pemakai terpaksa memakai narkoba karena berawal saat melihat keluarga sendiri juga sebagai pemakai. Ini sungguh di luar dugaan. Melihat orangtua yang akrab dan sebagai pemakai narkoba, si anak pun merasa penasaran. Dari rasa penasaran timbul keinginan untuk mencoba dan akhirnya menjadi pecandu yang tidak bisa lepas dari barang mematikan satu itu. Bukan itu saja, adanya kasus empat kakak beradik yang tertangkap karena terbukti sebagai pemakai narkoba dan yang paling menggelikan saat diketahui sangan ibu pun ternyata turut andil sebagai mantan pemakai narkoba. Ini suatu gambaran yang sangat buruk, betapa narkoba seperti kematian yang setiap saat datang mengintip dan menjerat siapa saja yang mencoba mendekat.

Apabila sudah terjerat maka pemakai narkoba akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan barang yang seperti kebutuhan pokok bagi diri si pemakai. Bahkan rela melakukan tindak kriminal sekalipun demi satu milligram barang tersebut. Di kalangan masyarakat muda, narkoba dengan jenis sabu dan ganja adalah jenis yang paling banyak digunakan. Anggapan mereka dua jenis barang itu, ganja dan sabu adalah barang yang sangat eksklusif dan paling termahal. Sehingga rumor yang tersebar, siapa pun pemakai kedua barang tersebut bisa masuk ke dalam kategori orang-orang yang berkelas tinggi. Bahkan rata-rata mereka rela mengeluarkan uang dalam sehari sebanyak tiga puluh lima juta sehari untuk barang yang satu ini.

Dapat dibayangkan, dalam sehari mereka merogoh kocek sebesar Rp. 35.000.000 per hari demi mendapatkan narkoba jenis ganja atau sabu. Lalu bagaimana bila dalam sebulan dan mereka setiap hari selalu membutuhkan barang tersebut? Mereka bisa menghabiskan kocek sebanyak Rp. 1. 050.000.000. Bagaimana dengan masyarakat biasa dari kalangan tidak mampu? Bisakah mendapatkan uang dengan jumlah sebesar itu demi sebuah kesenangan yang bisa menghancurkan hidup mereka?

Bagi remaja dan masyarakat muda, ini bukan sebuah pilihan yang baik menghabiskan uang sekian juta hanya untuk sebuah barang yang bisa mematikan. Memilih hidup sehat tanpa narkoba pun perlu dana. Namun ini juga sebuah pilihan bagi kita. Mengeluarkan uang demi sehat atau mengeluarkan uang untuk mendekatkan diri pada kematian? Silakan pilih.

Iklan