GEMA REMPAH MAHAKARYA INDONESIA. Sekilas kalau baca kalimat itu, maknanya kurang lebih “Rempah-Rempah sebagai Mahakarya Indonesia telah, sedang dan akan terus bergema ke seluruh negara di dunia.”

Maka dari itu kalimat itu sangat pantas dijadikan tema besar dari event Mahakarya Indonesia 2014 yang digagas oleh Dji Sam Soe. Alasannya Dji Sam Soe sebagai merk kretek sejak 1932 telah mengemakan (baca: mempopulerkan) dua Rempah-Rempah Indonesia, Tembakau dan Cengkeh.

GEMA REMPAH MAHAKARYA INDONESIA bisa juga diartikan kalimat plesetan dari ungkapan berbahasa Jawa “gemah ripah loh jinawi.” Kalau “gemah ripah loh jinawi” bermakna “kekayaan alam yang berlimpah,” maka makna dari GEMA REMPAH MAHAKARYA INDONESIA adalah: Kekayaan Rempah-Rempah Indonesia merupakan salah satu karya terbesar Indonesia.

Dua makna inilah yang baru saja dipresentasikan oleh JJ Rizal (Sejarawan) dan Anto Motulz (Travel Blogger / Penulis) dalam event Gathering Dan Live Writing Competition MAHAKARYA INDONESIA. Event ini diselenggarakan di Tartine Restaurant FX Mall Jakarta hari Jum’at 10 Oktober 2014.

JJ Rizal sebagai seorang sejarawan dari Komunitas Bambu tentu memaparkan tentang sejarah Rempah Indonesia yang telah bergema kemana-mana. Sedangkan Anto Motulz sebagai seorang Travel Blogger menjelaskan tentang kekayaan Rempah-Rempah Indonesia yang digunakan sebagai bumbu dapur.

Merujuk dari buku yang ditulis Jack Turner berjudul “Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme,” JJ Rizal menyebut Rempah-Rempah Indonesia sebagai “buah dari surga.” Dampak disebut begitu, dari zaman kolonial Rempah-Rempah Indonesia banyak dicari negara-negara penjajah.

“Terutama Rempah-Rempah dari Indonesia bagian Timur seperti pala, cengkeh dan lada,” kata JJ Rizal menambahkan penjelasannya terkait tentang bagaimana ketiga rempah tersebut menjadi pemicu sejarah negara-negara Eropa untuk menjajah Ternate dan Tidore.

“Pada era kolonial, Rempah-Rempah Indonesia di negara-negara Eropa bergema sebagai mitos besar bagi kelangsungan nasib politik, ekonomi, sosial, praktek spiritual, percintaan, seni, kesehatan, dan seksualitas,” papar JJ Rizal.

Ragam masakan Indonesia

Pengalaman Anto Motulz bersentuhan dengan Rempah-Rempah berbeda dengan JJ Rizal. Ia sering berinteraksi dengan rasa Rempah-Rempah sebagai bumbu masakan. Pertemanannya dengan Koki William Wongso, Santhi Serad dan Rahung Nasution dari komunitas ACMI (Aku Cinta Masakan Indonesia),  membawa Motulz berwisata kuliner Nusantara.

Arti berwisata kuliner bagi Motulz ada dua, yaitu berwisata icip-icip rasa makanan dan berwisata ke beberapa daerah untuk mencicipi masakan khasnya. “Paling sering kumpul icip-ipci antar sesama anggota ICMI yang diadakan berkala,” tambah Motulz. “Dalam setiap pertemuan rutinnya, para anggota membawa masakan sendiri lalu mereka masing-masing menjelaskan terbuat dari apa masakan itu, dari bumbu rempahnya sampai cara pengolahannya.” paparnya.

Dari wisata icip-icip, Motulz bercerita tentang kesannya makan malam dengan Gubernur DKI saat ini, Pak Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih akrab dipanggil Pak Ahok. “Pak Ahok sangat gemar menu masakan dari daerah Belitung seperti Sop Ikan dengan Kunyit (Gangan), Suto Belitong dan Mie Belitong,” kata Motulz.

Kekhasan dari masakan Gangan ada pada bumbu rempah-rempahnya yang terdiri dari kunyit, lengkuas, serai, cabe rawit, bawang merah, terasi, dan asam jawa. Sedangkan bumbu-bumbu rempah dari Suto Belitong dan Mie Belitong adalah bawang goreng kecap dan jeruk limau serta cabe rawit tumbuk khas Belitong.

Dari wisata berkelana ke beberapa daerah, Motulz pernah ke Bali dalam rangka mendokumentasikan sharing session memasak di Ubud Writers & Readers Festival 2013. Masih terkait urusan dokumentasi, Motulz juga pernah traveling dari Bali, Lombok, Jakarta, dan Jambi dalam rangka membantu Culinary Institute of America .