1368989607344234017
Mendapat oleh-oleh Blangkon Solo dari seorang teman beserta isi Goddie Bag Asean Blogger Festival

Lokasinya kurang lebih tak sampai 2 kilometer dari tempat menginap di Jalan Sugiyopranoto. Tinggal belok kiri (atau Barat) dari Hotel Kesumah Sahid, berjalan lurus terus, dengan patokan lewati perempatan satu-satunya lalu lurus lagi. Gapura besar berwarna putih sebagai penanda, sudah mulai keliatan setelah melewati perempatan tadi.

Alun-alun sebagai pembatas antara jalan setapak dengan Pura Mangkunegaran, menjadi permadani untuk menuju pagelaran. Ya malam itu (11/05) di Pendopo Mangkunegaran akan ada pagelaran “Pentas tari kolosal Timun Mas” yang dibawakan oleh Sanggar Seni Surya Sumirat Mangkunegaran. “Pentas tari kolosal Timun Mas” dalam rangka event dua tahun sekali bernama “Mangkunegaran Perfoming Art.”

Sebagaimana suasana di tempat-tempat pertunjukkan terbuka, di sekeliling panggung pendopo sudah ramai. Saya dan lima orang rombongan Asean Blogger yang termasuk memadati area sekitar panggung, mendapati pertunjukkan belum dimulai.

Dengan kamera siap jepret di tangan, saya sama dengan beberapa teman rombongan lain mencari-cari moment apa yang bisa direkam dalam gambar. Begitulah pula rerata pengunjung pagelaran, kamera-kamera dengan merk berbagai jenis siap menjadi senjata perekam.

Tanpa menunggu lama, lewatlah satu-persatu para artis pertunjukkan. Tentu mereka menggunakan kostum “Pentas tari kolosal Timun Mas.” Dan inilah, obyek yang sangat pantas untuk direkam. Pertama yang melewati beberapa meter dari tempat saya berdiri adalah sepasang “bidadari.”

Ya dua remaja putri (yang cantik) berkostum kemben dan kain kebaya, melewati saya dengan bercanda antar sesama. Punggung dua penari yang terbuka itu seakan ikut bergetar, mengikuti derai canda mereka berdua.

Setelah mengabadikan dua bidadari itu, berturut-turut dibelakangnya datang rombongan kecil para artis pagelaran. Masih menggunakan kostum penari Jawa yang bervariasi, mereka semua menuju ke samping kiri panggung dari posisi tempatku berdiri.

Spontan, saya beserta beberapa teman Blogger Asean mengikuti mereka ke arah tersebut. Di sana kami lebih leluasa merekam gambar para penari yang sedang bersiap-siap pentas.

Belum puas rasanya mengabadikan gambar para penari pentas, mendadak seorang teman menginggatkan rombongan kami belum makan malam. Menginggat acara puncak pagelaran Timun Mas belum dimulai, kami pun beranjak meninggalkan lokasi sebentar, jelas untuk mengisi perut kami dengan beberapa makanan khas Solo.

 

Mencicipi semangat budaya Jawa

Rencana makan nasi kucing di angkringan yang bertebaran di jalan-jalan Kota Solo, namun kami setelah keluar gapura pembatas alun-alun Mangkunegaran tak menemukan satu pun angkringan. Akhirnya kami makan di Rumah Makan “Omah Sinten.”

Masuk ke dalam rumah makan, suasana budaya Jawa sangat mendominasi. Ada Joglo yang difungsikan sebagai ruang makan, ada pernak-pernik hiasan Jawa tertempel di dinding-dindingnya. Kami pun memilih duduk di luar pendopo untuk makan malam.

Waitress pun langsung datang mengantarkan daftar menu. Daftar menu makanan rerata sudah saya kenal, tetapi ada juga yang asing namanya. Salah satunya adalah “Nasi Goreng Golong” Makanan inilah yang saya pesan karena penasaran apa bentuknya dan tentu rasanya.

13689857522026113080
Nasi Goreng Rumah Makan

Karena yang memesan beberapa orang, jadi memang agak lama santapan hadir di meja makan kita. Sembari menunggu, lagi-lagi kami berpencar sebentar untuk memotret apapun yang unik untuk difoto di Omah Sinten.

Satu persatu makanan kami pun datang diantar waitress, termasuk nasi goreng yang saya pesan. Tatanan rupa nasi goreng terbentuk bagus, satu piring nasi kecoklatan dibawahnya diwadah selembar Daun Pisang. Di atas nasi tertumpuk telur mata sapi, kerupuk dan taburan campuran bawang goreng serta Abon.

Belum lagi di samping nasinya, ada dua sate ayam yang berdiri menusuk potongan Mentimun sebagai lalapan. Selain Mentimun, lalapan sebagai teman makan juga ada suwir-suwir Kol. Rasanya? Legit dan berani bumbu, mirip dengan rasa Bakmi Godog Jawa. Dua rasa itu baru kali saya rasakan pada nasi goreng, ya karena biasanya nasi goreng rumahan warna rasanya tidak seperti rasa nasi goreng “Omah Sinten.”

Setelah menyantap habis nasi goreng di hadapan, begitu pula dengan teman-teman, kami pun berangkat kembali ke Pendopo Mangkunegaran, tentu setelah membayar masing-masing semua makanan “Omah Sinten” yang kami pesan.

Berbicara makanan, selama kami (para blogger komunitas ASEAN Blogger Telkom Indonesia) berada di Kota Solo, setidaknya mencicipi lebih dari dua masakan olahan khas Solo. Kalau saya pertama kali mencicipi, sewaktu Gala Dinner di Lojigandrung (malam Jum’at, 10/05).

Ada banyak pilihan variasi makanan yang disediakan di kediaman Walikota Solo itu. Misal, Selat Solo, Gudeg, bakmi godhog, Timlo, Nasi Liwet, Tengkleng, Wedang Jahe , dan lain-lain. Saya sendiri hanya mencicipi dua varians yaitu Selat Solo dan bakmi godhog. Kalau Selat Solo baru pertama kali ini saya mencicipi. Ternyata Selat Solo ada juga yang menamakannya dengan Bistik Jawa Steak.

Ya memang terlihat dari tatananya, ada potongan daging steak sapi di situ bercampur kentang goreng, wortel rebus, Daun selada, buncis rebus, kembang kol rebus, brokoli rebus, dan telur rebus dalam satu piring santapan. Lalu kesemua campuran itu tergenang dalam kuah berwarna coklat yang rasanya seperti saus Mpek-Mpek Palembang.

Beruntung sekali nyicipi pertama kali dapat dua porsi, di hari ketiga Asean Blogger Festival saya kembali menyantap Selat Solo dalam kunjungan ke Keraton Kasunanan Surakarta. Tidak hanya Selat Solo yang disajikan, tetapi ada juga Nasi Liwet Khas Solo. Sayang, perut sudah terasa kenyang sehabis menyantap Selat Solo sehingga Nasi Liwet tak tercicipi.

 

Selat Solo (koleksi foto @Gmontadaro)
Selat Solo (koleksi foto @Gmontadaro)

Menyelami semangat budaya Jawa

Selain Nasi Goreng Golong dan Selat Solo, saya juga mencicipi Bakmi Godog pinggir jalan Kota Solo yang rasanya tak kalah enaknya dengan masakan olahan khas Surakarta lainnya. Namun saya saya tak sempat menyantap Nasi Kucing Angkringan, bisa jadi karena saya telah lama mencobanya sewaktu tinggal lama di Yogyakarta.

Selama empat hari tiga malam di kota Solo, tentu saya tak hanya mencicipi unsur budaya Jawa berbentuk makanan olahan khasnya. Saya juga (dan bisa jadi para Blogger ASEAN festival lainnya) merasakan seperti menyelami unsur lain dari budaya Jawa, yaitu seni tarinya.

Ada empat seni tari di Kota Solo yang saya lihat. Pertama sewaktu Gala Dinner bersama Walikota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo di Lojigandrung, kedua ketika di Pura Mangkunegaran melihat pagelaran “Mangkunegaran Perfoming Art.” Dan dua seni tari lagi dalam acara penutupan Asean Blogger Festival yang berlokasi di Keraton Kasunanan Surakarta.

Tentu tidak hanya sekedar melihat, tetapi lebih dari menyaksikan gerak tari Jawa yang penuh gerakan simbolisasi. Gerakan berkesinambungan itu ditambah dengan iringan seni instrumen Jawa, seakan menghipnotis lalu menenggelamkan saya dalam daya magis seni olah tubuh tradisional itu.

Tarian pertama yang saya saksikan adalah Tari Gambyong Retno Kusumo di Lojigandrung. Empat penari putri berkostum perpaduan kemben merah, kain kebaya, selendang hijau dan hiasan kepala, menari penuh simbolisasi bagaimana para puteri sedang berhias menyambut tamu agung.

13689866981101979181
Tari Gambyong Retno Kusumo

Tari yang diciptakan KGPAA (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya) Mangkunegaran VIII ini seakan memang menyambut kami para peserta ASEAN Blogger Festival sebagai tamu di Kota Solo. Inilah pesan daya magis yang disampaikan oleh empat penari remaja putri tersebut. Lebih jauh, para tamu yang berkunjung serta bergaul ke Kota Solo hendaklah tahu adat-istiadat setempat dan menghormatinya sebagaimana berbagai sifat berbudi luhur seorang pria ketika melakukan pendekatan seorang wanita yang dicintainya.

Tari kedua yang saya saksikan yaitu dalam event “Mangkunegaran Perfoming Art.” Adalah “Pentas tari kolosal Timun Mas,” nama pagelarannya. Disebut kolosal karena memang menceritakan cerita rakyat Jawa yaitu Timun Mas yang diterjemahkan dalam variasi gerak tari secara berkesinambungan.

Walau saya hanya beserta teman-teman ASEAN Blogger yang tadi makan di “Omah Sinten,” tidak menyaksikan dari awal pementasan. Akan tetapi ternyata saya juga tidak ketinggalan, ya ketika saya berjejalan dengan pengunjung lainnya ternyata sedang adegan Tokoh Timun Mas sedang galau ke Ibundanya.

Bagi semua orang yang tahu dongeng-dongeng cerita rakyat nusantara, pasti juga mengerti apa dan bagaimana cerita Timun Mas. Ringkasnya, dua orang petani yang telah lama tidak mempunyai buah hati, meminta bantuan raksasa “Buta Cakil” agar keduanya mempunyai anak. Raksasa itu mengabulkan dengan syarat ketika Timun Mas berusia remaja, maka ia harus dikembalikan ke raksasa itu.

13689879501940354905
Salah satu adegan Pentas tari kolosal Timun Mas

Singkat cerita, Timun Mas dan kedua  orangtuanya meminta bantuan ke pertapa. Diberilah tiga senjata dari pertapa itu ke Timun Mas yaitu terdiri dari segenggam garam, cabai, dan terasi udang. Puncaknya ketika Buta Cakil mengejarnya, Timun Mas berhasil selamat berkat tiga senjata itu.

Kembali ke pagelaran di Pura Mangkunegaran, cerita dongeng Timun Mas tidak hanya diterjemahkan dengan penampilan berteater tetapi tentu dengan gerak tari bervariasi dari semua lakon panggung yang tampil. Misal, ketiga senjata Timun Mas, di panggung diterjemahkan dengan beberapa penari berkostum seragam yang secara bergiliran dan bergantian mengeliling Buto Cakil seakan ketiga senjata itu hidup bergulat dengan raksasa. Dampak dari penerjemahannya yang hidup itu maka dalam cerita tari itu ada dramatisasi yang bisa dirasakan penonton seperti kelucuan, ketegangan, kekalahan, kemenangan serta dramatisasi lainnya.

Pesan daya magis dari “Pentas Tari kolosal Timun Mas” rupanya berkesinambungan dengan tari yang di Lojigandrung. Yakni setelah diberi “wejangan” berlakulah sopan santun sebagaimana kebanyakan orang Jawa, maka ketika beradaptasi dengan masyarakat Jawa bersiasatlah dengan kejahatan yang kapanpun muncul sebagaimana siasat Timun Mas dan kedua orangtuanya.

Nah ini yang menariknya ketika menghadiri ASEAN Blogger Festival di Solo, saya seakan menemukan makna filosofi Blangkon (topi khas Jawa). Bagi yang menghadiri acara penutupan ABFI di Keraton Kasunanan Surakarta, pasti tahu dua tarian apa yang disuguhkan oleh pihak Keraton Kasunanan. Ya dua tarian itu berjenis tarian perang atau Wireng.

Nama dua tarian itu adalah “Tari Srimpi Moncar” dan “Tari Gatutkaca Dadung Awuk.” Kalau Tari Srimpi Moncar  dibawakan oleh empat penari putri, sedangkan Tari Gatutkaca Dadung Awuk ditarikan oleh dua remaja putra.

13689887122007477656
Para penari Srimpi Moncar memasuki pentas di  dalem Keraton Kasunanan
136898916126198874
Dua orang penari Gatutkaca Dadung Awuk sedang beraksi

Seperti diketahui, Tari Srimpi Moncar mengambarkan kisah peperangan antara Adanenggar dan Kelaswara yang memperebutkan Wong Agung Menak. Kalau Tari Gatutkaca Dadung Awuk menggambarkan cerita peperangan antara Gatotkaca melawan raksasa penunggu hutan Dadung Awuk. Nah, pesan daya magis kedua tarian itu adalah putra dan putri sama saja, setelah beradaptasi dengan masyarakat Jawa jadilah ksatria yang penuh kelembutan dan daya taktik.

Pesan daya magis dari masing-masing tarian di Asean Blogger Festival (Tari Gambyong Retno Kusumo, Tari kolosal Timun Mas, Tari Srimpi Moncar, dan Tari Gatutkaca Dadung Awuk) saling berkaitan seakan menggambarkan filosofi bentuk Blangkon Jawa. Perhatikan bentuk Blankon Jawa yang datar di depan dan ada “jendolan” dibelakang.

Lebih jauh, memulainya beradaptasi dengan masyarakat Jawa dengan penuh lemah lembut, lalu ketika bergaul diantara sesama bergurulah kepada sifat penuh taktik masih dengan lemah-lembut, apalagi terhadap musuh. Tujuannya agar nanti hasilnya ketika “turun dari Kawah Candradimuka” anda menjadi ksatria “bejendol.” Maksudnya Ksatria yang berwibawa atau berkharisma. Pesan filosofi bentuk Blangkon Jawa itu berlaku bagi semua, baik putra dan putri.

 

*** Tulisan ini ada repost dari tulisan saya sendiri di Kompasiana

Iklan