Singgasana Raja Itu Bernama Garuda Indonesia

1372579192854579602
Deretan penghargaan diraih Garuda Indonesia karena terus berprinsip

“Seperti yang ada di televisi,” empat kali saya mengucapkan itu ketika mengunjungi Area Perkantoran Gedung Garuda City Center (Kamis, 20 Juni 2013). Empat kali ucapan yang sama itu keluar di empat tempat berbeda, masih di area yang sama.

Harap maklum saya mengucapkan hal itu karena baru pertama kalinya mengunjungi empat tempat yang masih berada di dalam kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng itu. Ketika baru pertama kali mengunjungi, hal pertama yang saya pikirkan adalah ya itu tadi heran, “kok persis sama dengan adegan, gambar, atau apapun yang ada di televisi.”

Tempat pertama yang saya kunjung bersama para Kompasianers adalah salah satu ruang di gedung Garuda City Center (GCC). Ruang itu sepertinya tempat rapat. Isi ruangannya berbentuk huruf U untuk tata desain meja dan kursi. Di mulut desain meja kursi berbentuk U itu ada layar presentasi tertempel di tembok.

Belum lagi di atas meja desain huruf U itu, ada beberapa semacam speaker otomatis tentu berfungsi untuk memimpin pembicaraan. Ketika duduk di salah satu bangku ruang rapat itu, saya langsung teringat dengan adegan di TV yang mengambarkan Rapat Dengar Pendapat atau rapat komisi di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Ya desain ruangan yang salah satu kursinya saya duduki ini, persis sama dengan desain ruangan Fraksi DPR. Tentu ruangan fraksi DPR itu hanya sering lihat di TV maka dari itu spontan keluar ucapan “seperti yang ada di televisi.”

Tempat kedua yang saya datangi dalam rangka kunjungan “Garuda Indonesia Experience.” Adalah gedung Garuda Maintenance Facilities (GMF). Begitu memasuki ruangan Engine Test Cell Area, mata saya langsung terpaku pada benda besar tergantung di langit. Selidik punya selidik ternyata benda itu adalah jet engine (generate thrust) pesawat. Jet engine itu tergantung tepat di depan lubang besar.

Nah lubang besar itu lagi-lagi mengingatkan saya pada adegan film di TV. Adegan film itu kira-kira menceritakan bahwa lubang besar itu berisi baling-baling kipas listrik yang bila dinyalakan maka kipas itu akan menyedot segala benda di dekatnya.

1372579443357079987
Ruangan Engine Test Cell Area PT Garuda Maintenance Facilities (GMF)

Hanggar masih di kawasan Bandara Soekarno-Hatta adalah tempat ketiga yang saya singgahi. Sebenarnya bukan singgah tapi lebih ke hanya melewatinya saja. Ya kami berombongan hanya boleh melihat hanggar beserta beberapa pesawat terbang  di dalam bis yang berjalan. Persis adegan TV yang menceritakan rombongan wisatawan melihat beberapa hewan liar di dalam bis.

Tidak hanya itu yang saya ingat, melihat area hangar begitu luas dan beberapa pesawat yang sedang terparkir membawa imajinasi saya mengenang adegan film. Adegan film yang menceritakan ada orang kaya yang memarkir pesawat jet pribadinya di hanggar atau adegan barisan sepasukan angkatan udara di hanggar yang bersiap menerbangkan jet tempurnya.

Tempat terakhir yang saya beserta rombongan Kompasianer datangi adalah gedung Aerowisata Catering Services (ACS). Ketakjuban saya (barangkali juga dirasakan oleh sebagian Kompasianers) di gedung ini ada pada apa yang disebut dengan sistem kerjanya.

Nah ada tiga dari beberapa sistem kerja di ACS yang begitu saya lihat langsung teringat dengan kejadian atau adegan film lagi-lagi di televisi. Sistem kerja pertama seragam dan penutup kepala yang wajib dipakai baik oleh karyawannya apalagi pengunjung.

Seragam itu mirip jas hujan tapi bahannya agak tipis. Sedangkan penutup kepalanya persis sama dengan penutup kepala yang digunakan para dokter ketika melakukan bedah operasi.

Ketika memakai seragam dan penutup kepala berwarna hijau itu, saya seperti di adegan film yang menceritakan saya berada di ruangan operasi bedah di Rumah Sakit.

Sistem kerja kedua adalah ruang-ruang kerja karyawan ACS (atau juga disebut ruang penyimpanan). Nah antar ruang-ruang tersebut seperti dihubungkan dengan jalan labirin. Tahu kan apa itu desain labirin?

Sederhananya kalau misalnya saya dilepas sendirian untuk jalan-jalan ke ruang-ruang ACS, sepertinya saya bakal tersesat menemukan pintu keluar, itulah labirin. Berbicara labirin, saya mengenal desainnya lagi-lagi dari film-film di TV.

Terintegrasi

Sistem kerja terakhir yang membuat saya terkesan adalah ruangan pendingin makanan. Wuih langsung saja, saya baru pertama kalinya masuk ke ruang berkabut yang sangat dingin itu. Jadi ketika masuk ke ruang itu saya langsung teringat adegan film di TV yang menceritakan ada seseorang yang disekap di ruang itu sampai meninggal.

Setelah mengunjungi ke empat tempat di Area Perkantoran Gedung Garuda City Center (ruang rapat GCC, gedung GMS, hanggar pesawat, dan gedung ACS), dalam perjalanan pulang saya bertanya-tanya. “kenapa kami rombongan Kompasianers hanya mengunjungi empat tempat tersebut?”

“Para Kompasianers diundang oleh media agency kita, harapannya adalah untuk mengenal lebih jauh key message champaign Garuda Indonesia yaitu value proposition, apa yang dikeluarkan oleh konsumen kita sama dengan apa yang mereka dapatkan.”

Penggalan ucapan itu datang dari Bambang Reza Aditiawarman, Senior Manager Marketing Media Garuda Indonesia dalam kata sambutannya di gedung GCC. Penggalan itu langsung saya ingat ketika saya usai bertanya “kenapa kami rombongan Kompasianers hanya mengunjungi empat tempat?”

1372579654251441096
Bapak Bambang Reza Aditiawarman, Senior Manager Marketing Media Garuda Indonesia

Ya, hubungan antara pertanyaan saya dengan ucapan dari Senior Manager itu ada di nilai tambah layanan Garuda Indonesia. Jadi, kenapa kami para Kompasianers hanya mengunjungi empat tempat karena GI ingin memperkenalkan “konsumen Garuda Indonesia akan mendapatkan layanan nilai tambah sesuai dengan apa yang mereka bayarkan.”

Apa saja nilai tambah maskapai yang bervisi “sebuah maskapai penerbangan terkemuka yang menawarkan layanan berkualitas kepada dunia dengan keramahan Indonesia” itu?

Pertanyaan itu banyak sekali variasi jawabannya. Pertama, nilai tambah GI ada pada terintegrasinya layanan maksimal tiga unit strategi bisnis dan empat anak perusahaannya. Nah tahulah saya bahwa tujuan GI mengenalkan dua tempat kepada Kompasianers (GMC dan ACS) untuk menunjukkan nilai tambah maskapai yang bermisi “menampilkan nuansa keindonesiaan kepada dunia melalui layanan perjalanan udara profesional dan menguntungkan.”

Sekedar informasi selain GMS dan ACS, GI juga mempunyai PT Abacus Distribution System (penyedia Software penerbangan) dan PT Aero System Indonesia (penyedia hardware IT penerbangan) sebagai anak perusahaannya. Sedangkan tiga unit strategi bisnisnya adalah Garuda Sentra Medika (jasa pelayanan kesehatan penerbangan), Garuda Cargo dan Citilink.

“Di tahun 2013 ini, kita akan mengeluarkan apa yang namanya Garuda Indonesia Experience 2.0. Ada 28 touch poin yang kita coba optimalkan dari Garuda Indonesia Experience 2.0.” Perkataan dari Pikri Ilham Kurniansyah (Senior Manager Pre and Post Flight Services Garuda Indonesia) inilah hadir sebagai variasi jawaban kedua dari pertanyaan Apa saja nilai tambah GI.

Dengan kata lain, Pikri ingin mengatakan Garuda Indonesia Experience 2.0 adalah breakdown program dari terintegrasinya layanan maksimal tiga unit strategi bisnis dan empat anak perusahaannya.

13725798022056823091
Bapak Pikri Ilham Kurniansyah (Senior Manager Pre and Post Flight Services Garuda Indonesia)

Apa untungnya bagi para konsumen Garuda Indonesia

Pertanyaannya sekarang adalah, apa manfaatnya bagi para konsumen dan pelanggan GI merasakan Garuda Indonesia Experience 2.0 ? Sebenarnya pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu adalah apa itu Garuda Indonesia Experience 2.0 ? Namun sebagian besar konsumen tidak perduli dengan definisi program, ia lebih peduli pada keuntungan bagi diri mereka.

Ya iyalah, jika saya pelanggan Garuda Indonesia yang akan terbang. Tidak mungkin Customer Services GI akan menerangkan terlebih dahulu apa itu Garuda Indonesia Experience 2.0. Maskapai yang mempunyai nilai perusahaan FLY-HI (eFficient & effective, Loyalty, customer centricitY, Honesty dan openness, Integrity) itu, akan langsung menunjukkan layanan GA Indonesia Experience-nya di dalam pesawat yang sedang terbang.

Bahkan sebelum saya terbang dengan pesawat GI, saya langsung bisa merasakan sebagian dari layanan 28 touch poin GA Indonesia Experience. Misal dalam layanan sebelum perjalanan (pre-journey) dan sebelum penerbangan (pre-flight). Untuk lebih lengkapnya apa itu Garuda Indonesia Experience 2.0, silakan buka situs Garuda Indonesia.

Sederhananya, ketika saya berbisnis (baca: menggunakan jasa) pesawat Garuda Indonesia maka seketika itu pula saya berubah menjadi raja. Ya benar raja, dari bagaimana saya dilayani dengan Sight (tampilan nuansa Indonesia), Taste (cita rasa nuansa Indonesia), Scent (aroma nuansa Indonesia), Sound (musik instrumental nuansa Indonesia) sampai dengan touch (sentuhan nuansa Indonesia), semuanya menyatu dalam singgasana bernama Garuda Indonesia

Itulah keuntungan merasakan GA Indonesia Experience. Lebih jauh, dengan sedikit membayar lebih mahal untuk berbisnis dengan Garuda Indonesia, maka keuntungan yang didapat adalah “pelayanan singgasana raja” yang bernama GA Indonesia Experience.

1372580036931038328
Saya siap menjadi raja dan dilayani dengan Garuda Indonesia Experience

Catatan: Semua foto adalah koleksi pribadi

 

*** Tulisan ini ada repost dari tulisan saya sendiri di Kompasiana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s