Arsip Kategori: Catatan Harian

Istana Ratu Boko: Wisata Uji Fisik

istirahat-rerumputan-ratu-boko

Langsung saja, tulisan ini secara langsung tercipta berkat koneksi 4G XL. Foto-foto piknik kenangan tahun 2006 sewaktu di Jogjakarta, saya dapatkan kembali dari teman lama. Di saat buntu menulis, tak menyangka juga bertemu teman (yang pernah satu kost di Jogja) di Facebook.

Chat panjang saling tanya kabar akhirnya temanku ini membagi foto-foto waktu pergi bersama teman-teman kost. Karena cuaca sering hujan belakangan ini, lebih dari 3 foto tak berhasil saya ambil atau download sepenuhnya. Sempet pusing juga sebelum menemukan solusi, menjadikan smartphone berjearingan 4G XL modem laptop. Berhasil, yup tangguh di segala situasi cuaca ternyata koneksi 4G XL.

Setelah melihat-lihat foto-fotonya, akhirnya minat menulis saya datang lagi. Taraaa, jadilah tulisan ini

Lanjutkan membaca Istana Ratu Boko: Wisata Uji Fisik

Cerita Agak Galau Sewaktu KKN

Dusun itu bagai tersembunyi dari keramaian. Setelah berhenti di Pos Polisi Kalasan, setidaknya harus naik motor lagi. Jalan aspal lurus sejauh kurang lebih 5 kilo, harus dilewati. Setelah itu, belok kiri dengan penanda jalan segitiga di kiri dan ada semacam pos ronda.

Aspal berganti menjadi jalan berbatu. Pemandangan kanan kiri hanya terlihat tanah gersang. Untuk terus masuk ke dusun, saya melewati jalan menyerong ke kiri lalu lurus sampai ketemu pos ronda kedua. Kira-kira jaraknya 1 kilo.

Lanjutkan membaca Cerita Agak Galau Sewaktu KKN

Kode-Kode Dalam Film Arrival

Menarik membahas ide film Arrival. “Apa jadinya jika Mak Comblang dari 2 cinta yang bertemu itu adalah Alien?” Nah yang menarik lagi menurut saya, ada kode-kode tertentu terkait tentang cinta, halah 🙂

Pertama adalah bentuk pesawat Alien. Setengah bola. Kode apa ini? Sebelum menjawabnya, mari menghitung ada berapa pesawat Alien yang datang ke Bumi? Ya ada 12. Genap, yang kalau dibagi dua menjadi 6. Artinya? 12 pesawat setengah bola akan menjadi 6 bentuk bola utuh.

Lanjutkan membaca Kode-Kode Dalam Film Arrival

Back To Family: Kemesraan itu…

​Sebagaimana ‘makan jalan,’ saya pun segera mengambil piring lalu menunggu sejenak untuk mengambil pasangannya, sendok. Di belakang Abang (kakak kedua) saya mengantri menyerok nasi. Ruang kosong di depan periuk besar karbo putih, segera saya tempati setelah abang bergeser mengambil lauk pauk. Sembari menggaruk-garuk nasi dan memindahkannya ke piring, pikiran saya menginggatkan: “Ingat ini makan hanya basa-basi. Jadi porsinya jangan muntuk-muntuk (meluber di piring).”

Setelah tiga kepal nasi (berukuran sembarang cenderung ke kecil) berada di piring, lirikan saya memandu tangan untuk mengambil lauk sayur merah berkuah pedas. Rendang Jengkol. Itu pun masih dalam peringatan pikiran “awas jangan banyak-banyak.” hasilnya nasi tercampur rendang jengkol, hanya mengisi setengah diameter lebar tatakan bundar piring berukuran sedang.

Balik kanan bermaksud mau makan di teras rumah, ruang sempit jalan keluar di kamar tengah sudah tertutup acak oleh sanak saudara yang sedang makan lesehan. Memaksakan diri keluar juga tidak baik, nanti malah ada insiden. “Med, makan di atas ajah,” segera saya melangkah ke tangga mengikuti saran Mbak A (istri Abang ke enam). Itupun harus melewati dua saudara yang menutupi jalan menuju tangga atas.

Tanggung Jawab



Tidak menyangka juga saya hari Minggu ini (12/11/2016), saya turut serta dalam Arisan Keluarga Besar Kakek Chalimi Kebumen. Biasanya saya malas mengikuti arisan yang diadakan berkala 2 bulan sekali ini. Alasannya, di antara keluarga besar angkatan 80-90an saya sendiri yang belum menikah dan bekerja sebagaimana mestinya bekerja di kantor. Ya itu namanya malu kalau ditanya ini itu.

Kenyataannya, tidak terjadi malu walaupun juga tidak terjadi hal-hal istimewa. Biasa saja namun (“mudah-mudahan buat saya ya”) bisa belajar dari bersilahturahmi antar anggota keluarga besar ini. Barangkali ada lebih dari satu pembelajaran.

Di antaranya, saya melihat pasangan suami-istri (baik pasangan sanak saudara seangkatan maupun pasangan muda dari para sepupu). Dan dari melihat itu bisa jadi dapat mengambil pembelajaran. “Ah jadi bingung mau menulis apa soalnya ide sudah ke atas dan tercecar di langit-langit pikiran, kudu di kumpulin lagi.”

Tanggung jawab. Mulai dari pengamatan ini, saya ingin mengatakan: Mereka masing-masing para pasangan seakan saling menginggatkan bahwa ada tanggung jawab sebagai suami atau istri. Maksudnya begini, tanpa disuruh atau tanpa beban mereka masing-masing para pasangan saling mengisi peran sebagai suami atau sebagai istri.

Masih belum mengerti? “Ya saya juga, hahaha.” enaknya barangkali langsung lari ke contoh ya. Eaaaa juga nggak enak menceritakan siapa-siapa saja contohnya, “khawatir mengumbar aib hahaha eh maksudnya nggak enak ajah menyebut nama. Gitu ajah.” 

Intinya, ya gitu dengan tujuan menjaga perasaan dan kemesraan mereka masing-masing tahu diri mereka tidak bebas lagi seperti dulu sewaktu lajang. Ada kewajiban bernama tanggung jawab. Cukup, itu saja.

Barangkali ada yang menanggapi, “semua orang juga tahu kalee, masa kamu baru tahu sekarang? Yeee kemana ajah hahaha.” Nah itu dia, meski secara teori sudah tahu (“ya iyalah kan belum nikah”) saya seperti dilihatkan kembali atau diingatkan kembali dengan tujuan: “Med besok jangan lupa kalau sudah menikah harus gitu juga. Bisa nggak lu?”

Pembelajaran lainnya yang saya dapat di arisan di Kota Bumi Tangerang (di rumah Abang ke enam dari saya, anak ke tujuh), rendang jengkolnya pedes banget. “Kagak kuat saya dengan level pedes menguar tanpa ada rasa gurihnya itu.” Akhirnya rendang saya sisihkan di piring, saya hanya makan nasi putih ajah. Itupun setelah sampai rumah di Kebagusan, saya makan lagi. “Lapar bro, kan tadi cuma ‘makan basa-basi’ hahaha.”

Semacam Tips Menulis Freewriting

Sumber Gambar: www.skyword.com
Sumber Gambar: http://www.skyword.com

Klise memang, tapi itulah kenyataan yang sering terjadi pada saya. Ya tidak lain tidak bukan berkaitan tentang urusan menulis. Katanya blogger, tapi kok update tulisan terbaru sangat jarang. Sebagai ukuran, per bulan saya rata-rata memposting tulisan terbaru hanya satu atau dua tulisan.

Ada apa ini? Sebenarnya penyebabnya biasa saja, maka dari itu saya sebut klise. Masalah utamanya saya kira adalah, malas menulis postingan terbaru. Nah lho berbicara malas, saya pernah dengar dan ini terus tersimpan dalam benak saya, begini kira-kira: “Kalau ada orang  beralasan malas, maka orang itu sudah tidak bisa diubah lagi.”

Benarkah demikian? Maksudnya alasan malas menulis saya sudah mentok dan tidak bisa diubah lagi. Lagi-lagi katanya blogger. Hmm, kalau berbicara “lagi-lagi blogger,” bisa jadi di satu sisi ada keinginan saya untuk terus menulis. Nah ini dia, seakan ada dua keinginan yang saling mengalahkan tetapi keinginan malas sudah melaju duluan melakukan aksinya.

Sampai di sini saya berpikir, “kok bisa ya?” Halah tuh bener kan, pertanyannya aja klise. “Sebentar saya lupa mau menulis apa lagi karena pikiran lagi nggak fokus.” “Oke, lanjut ke sini saja, gaya biasanya.” Intinya, setelah saya dibuat berpikir dari dua hari kemarin, bisa jadi penyebabnya adalah malas (lagi-lagi) menuliskan pengalaman terbarunya.

Nah dari tadi saya menulis pembukaan tulisan ini, sebenarnya mau berbicara masalah ini, “saya malas memposting pengalaman baru saya di blog.” Dan satu lagi penyebab sepertinya, yaitu ketika di tengah-tengah tulisan atau masih dalam keadaan menulis, tiba-tiba saya hilang gairah menulis.

Seperti yang saya alami pada saat menulis tulisan ini. Niat awal cuma semacam menganalisa satu penyebab “saya malas memposting pengalaman baru,” eh mendadak seakan ‘nyawa semangat’ menulis saya hilang begitu saja. Ibarat lagi naik gunung, eh pas di lerengnya tiba-tiba semangat mendaki hilang, “Nah loh, itu enaknya diapain?” Maka dari itu, mau nggak mau saya melibatkan tema semangat menulis sekaligus untuk memaksa saya untuk terus merangkai kata.

Kembali ke menulis pengalaman baru

Mau bagaimana lagi, sebenarnya saya ingin menulis tema “menulis pengalaman baru.” Mau nggak mau kembali bicarakan hal itu. Jadi begini, saya cuma mau bilang bahwa “menulis pengalaman baaru” merupakan salah satu jenis tulisan blogger. Jenis tulisan blogger lainnya adalah reportase, opini, esai dan fiksi.

Nah ini dia, setelah saya pikir-pikir, apa ya jadi lupa tuh. Penyebab saya sangat jarang menulis postingan adalah sering sekali menunda berbagi pengalaman saya, baik yang terbaru atau sebaliknya. Mengapa hanya pengalaman? Maksudnya kenapa jenis tulisan blogger lainnya tidak saya sentuh sebagai penyebab. Kalau mau dicari persamannya, sebenarnya untuk jenis tulisan blogger lainnya juga sama kondisinya, saya sering menunda menulikannya.

Akan tetapi khusus jenis tulisan “berbagi pengalaman,” semacam ada penekanan berbeda di sini. Kalau untuk reportase, opini, esai dan fiksi bisa jadi ada pemakluman kenapa ada penundaan untuk dituliskan. Alasannya karena semua jenis tulisan blogger itu (selain jenis tulisan pengalaman) memerlukan pemikiran selektif maka dari itu perlu semacam “ruang penundaan.”

Berbeda dengan jenis tulisan “berbagi pengalaman,” ia bagaikan jutaaan sumber data yang tersimpan di perpustakaan otak dan siap dikeluarkan kapan pun dan dengan cara apa pun. Nah arti siap di sini maksudnya jutaan sumber data pengalaman itu siap dituliskan dalam cara apapun, termasuk menulis bebas (freewriting).

Kalau dipikir lebih jauh, sebenarnya blogger bisa mengambil keuntungan dari kondisi adanya jutaan sumber data pengalaman diri pribadi. Keuntungannya adalah bisa menulis secara berkala, misal dalam sehari bisa menghasilkan tulisan “pengalaman” per dua jam sekali. Tuliskan saja secara freewriting.

Itu idealisnya, kenyataannya, beuh, maka dari itu saya menuliskan masalah menunda ini. Udah gitu aja.