Arsip Kategori: Reportase

Pilih Pribumi atau Prioritas, Dian Sastro?

Senyumannya itu lho bikin meleleh. Padahal cuma kasih senyum karena difoto saya, beuh hati ini rasanya “asek ketemu pertama kali langsung dikasih kode, hahaha.” Iya sama-sama tinggal lama di Jakarta, tapi kenapa ya saya baru kopdar dengan Dian Satrowardoyo?

Tolong jangan ada yang nyahut “siapa loe, pede banget.” Biarkan saya cerita pengalaman pertama kali bertemu langsung dengan pemeran Cinta di film AADC. Dari rumah, saya sudah punya sedikit rencana. “Nanti poto bareng ah sama Dian Satro.” Ya karena saya salah satu fans Dian Sastrowardoyo gitu, wajah ‘pribumi-nya’ eksotis apalagi kalau lagi tersenyum. Makanya dari wajahnya yang eksotis, artis ini terpilih memerankan sosok Kartini di film besutan Hanung Bramantyo.

Lanjutkan membaca Pilih Pribumi atau Prioritas, Dian Sastro?

XLamat Datang Di Era Generasi Go Home

Router-XL-Home
Router XL Home, produk terbaru cocok untuk mereka yang ingin mengakses internet tanpa harus meninggalkan rumah

 

Kapan pertama dan terakhir kali merasakan sindrome Homesick? Kalau saya pertama kali pas usia 16. Waktu itu saya yang terbiasa main di Jakarta, mau tak mau harus bersekolah di Jombang Jawa Timur.

Rasanya sedih sampai nelangsa gitu. Maksudnya, ketika orangtua pamit pulang, duaar air mata pun tumpah. Jiaah, soalnya nggak nyangka juga harus sekolah SMA jauh sekali dari rumah.

Setelah ditinggal orangtua, efek homesickness masih terasa banget. Nggak semangat mau ngapain-ngapain. Kenalan sama teman-teman baru juga terabaikan gara-gara kangen berat pengin pulang ajah.

Lanjutkan membaca XLamat Datang Di Era Generasi Go Home

Istana Ratu Boko: Wisata Uji Fisik

istirahat-rerumputan-ratu-boko

Langsung saja, tulisan ini secara langsung tercipta berkat koneksi 4G XL. Foto-foto piknik kenangan tahun 2006 sewaktu di Jogjakarta, saya dapatkan kembali dari teman lama. Di saat buntu menulis, tak menyangka juga bertemu teman (yang pernah satu kost di Jogja) di Facebook.

Chat panjang saling tanya kabar akhirnya temanku ini membagi foto-foto waktu pergi bersama teman-teman kost. Karena cuaca sering hujan belakangan ini, lebih dari 3 foto tak berhasil saya ambil atau download sepenuhnya. Sempet pusing juga sebelum menemukan solusi, menjadikan smartphone berjearingan 4G XL modem laptop. Berhasil, yup tangguh di segala situasi cuaca ternyata koneksi 4G XL.

Setelah melihat-lihat foto-fotonya, akhirnya minat menulis saya datang lagi. Taraaa, jadilah tulisan ini

Lanjutkan membaca Istana Ratu Boko: Wisata Uji Fisik

Back To Family: Kemesraan itu…

​Sebagaimana ‘makan jalan,’ saya pun segera mengambil piring lalu menunggu sejenak untuk mengambil pasangannya, sendok. Di belakang Abang (kakak kedua) saya mengantri menyerok nasi. Ruang kosong di depan periuk besar karbo putih, segera saya tempati setelah abang bergeser mengambil lauk pauk. Sembari menggaruk-garuk nasi dan memindahkannya ke piring, pikiran saya menginggatkan: “Ingat ini makan hanya basa-basi. Jadi porsinya jangan muntuk-muntuk (meluber di piring).”

Setelah tiga kepal nasi (berukuran sembarang cenderung ke kecil) berada di piring, lirikan saya memandu tangan untuk mengambil lauk sayur merah berkuah pedas. Rendang Jengkol. Itu pun masih dalam peringatan pikiran “awas jangan banyak-banyak.” hasilnya nasi tercampur rendang jengkol, hanya mengisi setengah diameter lebar tatakan bundar piring berukuran sedang.

Balik kanan bermaksud mau makan di teras rumah, ruang sempit jalan keluar di kamar tengah sudah tertutup acak oleh sanak saudara yang sedang makan lesehan. Memaksakan diri keluar juga tidak baik, nanti malah ada insiden. “Med, makan di atas ajah,” segera saya melangkah ke tangga mengikuti saran Mbak A (istri Abang ke enam). Itupun harus melewati dua saudara yang menutupi jalan menuju tangga atas.

Tanggung Jawab



Tidak menyangka juga saya hari Minggu ini (12/11/2016), saya turut serta dalam Arisan Keluarga Besar Kakek Chalimi Kebumen. Biasanya saya malas mengikuti arisan yang diadakan berkala 2 bulan sekali ini. Alasannya, di antara keluarga besar angkatan 80-90an saya sendiri yang belum menikah dan bekerja sebagaimana mestinya bekerja di kantor. Ya itu namanya malu kalau ditanya ini itu.

Kenyataannya, tidak terjadi malu walaupun juga tidak terjadi hal-hal istimewa. Biasa saja namun (“mudah-mudahan buat saya ya”) bisa belajar dari bersilahturahmi antar anggota keluarga besar ini. Barangkali ada lebih dari satu pembelajaran.

Di antaranya, saya melihat pasangan suami-istri (baik pasangan sanak saudara seangkatan maupun pasangan muda dari para sepupu). Dan dari melihat itu bisa jadi dapat mengambil pembelajaran. “Ah jadi bingung mau menulis apa soalnya ide sudah ke atas dan tercecar di langit-langit pikiran, kudu di kumpulin lagi.”

Tanggung jawab. Mulai dari pengamatan ini, saya ingin mengatakan: Mereka masing-masing para pasangan seakan saling menginggatkan bahwa ada tanggung jawab sebagai suami atau istri. Maksudnya begini, tanpa disuruh atau tanpa beban mereka masing-masing para pasangan saling mengisi peran sebagai suami atau sebagai istri.

Masih belum mengerti? “Ya saya juga, hahaha.” enaknya barangkali langsung lari ke contoh ya. Eaaaa juga nggak enak menceritakan siapa-siapa saja contohnya, “khawatir mengumbar aib hahaha eh maksudnya nggak enak ajah menyebut nama. Gitu ajah.” 

Intinya, ya gitu dengan tujuan menjaga perasaan dan kemesraan mereka masing-masing tahu diri mereka tidak bebas lagi seperti dulu sewaktu lajang. Ada kewajiban bernama tanggung jawab. Cukup, itu saja.

Barangkali ada yang menanggapi, “semua orang juga tahu kalee, masa kamu baru tahu sekarang? Yeee kemana ajah hahaha.” Nah itu dia, meski secara teori sudah tahu (“ya iyalah kan belum nikah”) saya seperti dilihatkan kembali atau diingatkan kembali dengan tujuan: “Med besok jangan lupa kalau sudah menikah harus gitu juga. Bisa nggak lu?”

Pembelajaran lainnya yang saya dapat di arisan di Kota Bumi Tangerang (di rumah Abang ke enam dari saya, anak ke tujuh), rendang jengkolnya pedes banget. “Kagak kuat saya dengan level pedes menguar tanpa ada rasa gurihnya itu.” Akhirnya rendang saya sisihkan di piring, saya hanya makan nasi putih ajah. Itupun setelah sampai rumah di Kebagusan, saya makan lagi. “Lapar bro, kan tadi cuma ‘makan basa-basi’ hahaha.”

Wahana Dufan ICE AGE: Bertualang Bersama Sid Di Arctic Tours

Wahana-Dufan-ICE-AGE-Sid
Bersama Rekan-Rekan Blogger Meliput Wahana Dufan ICE AGE: Sid’s Arctic Tours, Kamis 10 April 2014 | Dokumentasi Blogger Bang Amril Taufik Gobel

Dingin langsung menyergap ketika saya sudah sampai di pintu masuk. Suasana di dalam gelap temaram. Pelan-pelan mata saya menyesuaikan keadaan gelap lalu melangkah bersama yang lain menyusuri jalan setapak berpalang. Ya palang-palang besi menjadi pembatas jalan setapak untuk menuju sebuah ruang besar. Ruang itu mirip arena bioskop, di depannya ada layar besar tapi tidak ada deretan tempat duduknya. Deretan tempat duduknya berganti dengan palang-palang berbanjar empat yang terisi penuh oleh kami, awak media dan blogger.

Di ruangan itu kami dihentikan sejenak, ada dua MC lagi yang memperkenalkan wahana yang baru saja dibuka ini. Di ruangan itu, kami menyaksikan animasi pendek yaitu keluarnya Sid (salah satu tokoh utama film animasi Ice Age) lalu dengan lucunya Kukang itu menerangkan apa saja yang akan dihadapi oleh kami selanjutnya nanti di dalam wahana.

Lorong lalu kami masuki setelah dari ruangan besar itu. Di ujung lorong sudah ada petugas yang menyuruh kami berbaris 20 dibagi tiga. Menunggu sejenak, lalu kami digiring ke pinggir sungai buatan. Antrian terjadi lagi. Tak berapa lama, saya naik perahu 5 X 4, ada lima tempat duduk dalam empat baris di atas perahu.

Di atas perahu, saya duduk paling pinggir dalam baris terdepan. Di depan badan saya ada pegangan pengaman. Pegangan itu berguna ketika perahu bergunjang kesana kemari. Perahu pun mulai berjalan, kejutan awal sudah datang. Guncangan kecil membuat celana panjang saya terciprat air.

Dinding interaktif kami temui di sepanjang kanan kiri jalan sungai. Tapi ada juga dinding mengantung di depan jalan sungai. Dinding layar itu bercerita adegan familiar dari film Ice Age, yaitu ketika Sid mencabut biji kenari dari gunung es. Sudah susah payah mencabut biji kenari, ternyata tindakan Sid malah membuat lubang yang mengucurkan air deras.

Liputan Setengah Jadi | Tidak Selesai Bro And Beb

Basah dan dingin. Iitulah kesan yang saya dapatkan ketika berada di dalam Wahana Dufan ICE AGE: Sid’s Arctic Tours (Kamis, 10 April 2014). Hawa dingin sudah mulai terasa ketika memasuki pintu utama. Suasana gelap temaram mengantarkan saya untuk melihat dinding-dinding dalam wahana yang penuh lukisan beradegan film

___________________________________

Bersamaan dengan ditekannya tombol alarm, saya bersama rekan-rekan Blogger Reporter beserta semua awaak media spontan berbondong-bondong menunju pintu Wahana ICE AGE: Sid’s Arctic Tours. Setelah melewati pintu masuk, jalan setapak kami daki. Berkelok-kelok sehingga nampak rombongan media yang masuk seperti ular beerjalan. Memang sebelum masuk pintu utama, di seputaran wahana dibua mirip gunung.

Memakan waktu lama juga untuk masuk ke pintu utama karena harus mengantri. Ketika masuk pintu utama, suasana gelap temaram saya temui. Masih jalan setapak di dalam wahana, namun bedanya sekarang jalan setapak itu dibatasi palang besi kanan kiri. Jalan satu-satunya itu menggiring kami ke ruangan mirip bioskop.

Benar-benar mirip bioskop di depan ruangan tempat kami berdiri ada layar besar. Namun memang bedanya tidak ada tempat duduknya, yang ada cuman empat palang besi berundak yang membatasi empat barisan dari kami. Semua baris terisi penuh oleh rombongan wartawan dan blogger.

Sekali lagi ini hanya draft tulisan Dan Belum Jadi… Mau Diterusin Kok Sudah 2 Tahun Berlalu Wuahaha Lupa Saya, Sorry Bro And Beb 😀