Ibu Pertiwiku Beraneka Warna

Infografis Buatan Ahmed Tsar

Buih ombak menjadi kendaraannya. Membawanya berselancar seolah mengambang membelah lautan. Warna putih buih ombak kontras dengan warna sesosok yang mengendarai ombak itu. Dari bawah kain yang membalut kakinya sampai kain pembatas penutup dada, warna hijau tua mendominasi. Gradasi hijau menempel di tubuh bagian atas yang dibiarkan terbuka. Warna hijau yang memudar juga melekat di kedua tangannya yang sedang merentang gemulai. Siapa sosok ini? Datanglah ke Pameran Lukisan Koleksi Istana yang bertajuk: Senandung Ibu Pertiwi.

Di pameran yang berlangsung dari 2 Agustus sampai 30 Agustus 2017, saya menemukan lukisan beraura mistis itu. Makin lama makin dipandang, sosok yang tergambar dalam lukisan karya Basoeki Abdullah bagi saya mempunyai daya magis tersendiri. Maka pantas dan sangat layak lukisan tersebut menjadi koleksi Istana Kepresidenan Indonesia. Hal ini karena Istana Presiden merupakan gedung yang harus dihormati dari segala aspek, termasuk dari sudut pandang aura magis.

Ini dia Sosok beraura mistis itu. Penasaran? Yuk datang ke Galeri Nasional di Pameran Lukisan “Senandung Ibu Pertiwi” | Dokumen Pribadi

Bukan hanya harus dihormati, Istana Kepresidenan juga merupakan gedung representatif mengenai keadaan Indonesia. Ketika tamu dari negara lain berkunjung ke salah satu Istana Presiden, memang selayak ada beberapa benda yang bisa mengambarkan kondisi terindah negara kepulauan ini. Tujuannya agar tamu negara bisa tahu apa saja keunggulan Indonesia secara sekilas namun berkesan. Dan itu, tidak lain tidak bukan adalah koleksi lukisan Istana yang bisa mewakilkan gambaran umum kondisi terindah Indonesia.

Di pameran Lukisan Koleksi Istana, saya menemukan hal itu. Yakni, kondisi terindah Indonesia yang terangkum dalam tema Senandung Ibu Pertiwi. Menurut saya tema ini mendeskripsikan pengandaian Indonesia sebagai Ibu Pertiwi jika bersenandung maka lihatlah hamparan keindahan warna-warni alam Nusantara. Ada alam pemandangan, ada alam tradisi, ada alam mitologi dan ada alam ciri khas keseharian kehidupan masyarakat Indonesia.

Empat ragam alam itu oleh 4 kurator dijadikan 4 tema kecil untuk tata letak 48 lukisan koleksi Istana di ruang Galeri Nasional, Jakarta. Hasilnya, saya sebagai pengunjung bagai melihat komposisi dan harmonisasi warna-warni lukisan Ibu Pertiwi. Jangan khawatir bagi pengunjung yang belum terbiasa mengapresiasi komposisi dan harmonisasi warna-warni lukisan, di pameran yang dibuka Bapak Presiden Jokowi pada 1 Agustus 2017 ini terdapat 5 tulisan pengantar yang tertempel di beberapa dinding ruang pameran. Lima tulisan itu disesuaikan dengan empat tema kecil yang mengatur tata letak koleksi pameran lukisan dan satu tulisan pengantar lukisan di dalam layar LED karya pelukis Rusia, Makovky.

Ini dia layar LED karya pelukis Rusia, Makovky. Lukisan aslinya di Istana Bogor sangat tidak mungkin di bawah ke ruang pameran karena bisa merusak lukisan | Dokumen Pribadi

Seperti yang saya temukan sebagai pengantar lukisan bertema alam pemandangan Indonesia: “Pada awal abad ke-20, banyak pelukis Eropa datang untuk melukis keindahan Hindia Belanda dan keeksotisannya. Gaya lukisan pemandangan / lanskap mereka yang indah menjadi populer, dan pelukis Indonesia seperti Mas Pirngadi, Wakidi dan Abdullah Suriosubroto juga melukis tema yang sama dengan gaya yang mirip. Istilah mooi Indie pertama kali….” Tulisan pengantar yang masih ada sambungannya sebanyak 3 alenia ini berjudul Mooi indie Atau Hindia Molek.

Pengunjung pameran lukisan “Senandung Ibu Pertiwi” dimudahkan dengan adanya pengetahuan pengantar untuk mengapresiasi lukisan | Dokumen Pribadi

Saya sendiri membaca 4 pengantar tulisan itu diselingi dengan mengamati satu dua lukisan di sekitar tulisan, merasa tidak cukup. Untung ada pemandu yang siap menjelaskan keingintahuan saya sebagai pengunjung. Ada beberapa fakta yang saya baru tahu berdasarkan informasi dari pemandu. “Lukisan karya Abdullah Suriosubroto ini unik,” ujar pemandu sembari menunjuk lukisan berjudul Pemandangan Sekitar Merapi. “Karena beliau lah yang menginspirasi hampir semua anak Indonesia yang baru belajar menggambar, melukis pemandangan seperti ini.” Ada elemen utama yaitu dua gunung, matahari terbit, sungai dan sawah. Saya lalu mengamati lukisan yang didominasi warna hijau dan biru itu, memang tidak persis sama dengan gambar pemandangan anak-anak SD. Namanya saja menginspirasi.

Lukisan karya Abdullah Suriosubroto ini menjadi inspirasi anak-anak SD ketika mengambar pemandangan, begitu kata pemandu | Dokumen Pribadi

Lalu ada pemandu lain menjelaskan keunggulan dari  lukisan karya S. Soejono Ds. berjudul Jalan di Tepi Sawah. “Salah satu lukisan koleksi Istana Cipanas ini spesialisasinya adalah ilusi optik. Lukisan ini seperti gambar Monalisa, jika diperhatikan maka pemandangannya akan mengikuti gerak si pengamat walau diamati dari sisi manapun.”

Lukisan karya S. Soejono Ds. berjudul Jalan di Tepi Sawah ini daya tariknya ada di ilusi optik | Dokumen Pribadi

Selain sebagai tempat bertanya seputar pengetahuan lukisan, para pemandu di pameran sesekali menginggatkan hal-hal teknis apa yang tidak boleh dilakukan pengunjung. Nah padahal sudah diingatkan beberapa kali sebelum masuk ruang pameran, saya pun diingatkan oleh pemandu karena tidak sengaja menyalakan lampu flash kamera ketika hendak memotret lukisan LED.

Iya benar, yang dipamerkan adalah lukisan. Koleksi 5 Istana Kepresidenan pula, maka ada peraturan teknis yang harus diikuti setiap pengunjung. Seperti ketika memotret lukisan tidak boleh menyertakan lampu flash, itu pun memotretnya harus dari kamera ponsel. Tidak boleh menggunakan kamera DSLR atau Mirrorless. Lalu tas tidak boleh dibawa masuk ruang pameran. Untuk lebih jelasnya mengenai apa saja yang tidak diperkenankan saat di pameran lukisan disertai alasannya, baca artikel berikut dari JadiMandiri.

Rabu 9 Agustus 2017, Saya bersama 30 Blogger lainnya diberi kesempatan oleh Tim JadiMandiri mengunjungi pameran lukisan “Senandung Ibu Pertiwi” | Dokumen Foto dari JadiMandiri

Ada satu hal lagi yang saya ingat berdasarkan penjelasan dari salah satu pemandu pameran. “Indonesia punya 5 Istana Kepresidenan. Nah setiap lukisan secara berkala dirotasi dari istana satu ke istana lainnya. Begitu seterusnya,” kata pemandu ketika saya tanya ini lukisan koleksi istana mana dan dijawab seperti itu.

Bagi saya rotasi penempatan lukisan ini selain baru tahu juga luar biasa. Hal ini karena butuh usaha ekstra hati-hati untuk memindahkan lukisan berharga. Artinya, bisa jadi ada suatu tim khusus yang tugasnya merotasi lukisan-lukisan koleksi istana. Itu satu. Kedua, mereka para pelukis lukisan koleksi istana masih sangat dihargai sebagai Pahlawan Seni Rupa Indonesia. Sangat tepat dengan tema dirgahayu Republik indonesia yang ke-72: Indonesia Kerja Bersama. Lebih jauh maksudnya, kemerdekaan Indonesia hasil dari kerja bersama dari para pahlawan di berbagai bidang, termasuk di bidang seni rupa.

 

Iklan

4 thoughts on “Ibu Pertiwiku Beraneka Warna”

  1. Rasanya nggak bisa ngebayangin ya, mas, saat proses memasukkan dan menata semua lukisan-lukisan luar biasa itu ke ruang pameran. Pasti butuh kehati-hatian dan juga perlu perhatian lebih saat mengatur tata letaknya. Keren banget pokoknya dan nggak nyesel datang ke Galnas ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s